Blogger

Blogger

  • Home
  • Social
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4

 Nama : Azizah Chairunisa A

NIM : 240907501015

Kelas : A

Market Structure adalah gambaran atau struktur yang terbentuk dari pergerakan harga di market tertentu. Struktur Market dapat membantu memahami perilaku, kondisi, dan tren market saat ini. Semuanya berkaitan dengan level support dan resistance, swing high, dan swing low.


Jenis-jenis Struktur Pasar

Struktur pasar terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Struktur Pasar Persaingan Sempurna

Struktur pasar persaingan sempurna terjadi ketika terdapat penjual dan pembeli yang sama-sama banyak, serta produk yang ditawarkan cenderung homogen (serupa). Dengan begitu, tidak ada penjual atau pembeli yang punya kekuatan untuk mempengaruhi harga.

Pasar dengan struktur ini dikatakan akan menghasilkan hasil terbaik bagi konsumen dan masyarakat.

Adapun ciri-ciri struktur pasar persaingan sempurna, meliputi:

  • Ada banyak penjual dan pembeli
  • Produk homogen
  • Informasi tentang produk baik
  • Tidak ada hambatan bagi pelaku pasar untuk memasuki atau keluar
  • Kekuatan pasar individu yang kecil
  • Keuntungan ekonomi yang diperoleh penjual mendekati nol atau normal profit.

Contoh pasar persaingan sempurna di Indonesia, di antaranya yakni pasar untuk produk beras, pasar sayur dan buah, pasar modal, dan pasar pakaian.


2. Struktur Pasar Monopoli

Struktur pasar monopoli adalah kondisi di mana hanya ada satu penjual di dalam pasar untuk jenis produk tertentu sehingga tidak ada pihak lain yang jadi pesaing. Jenis pasar ini akan memiliki banyak pembeli.

Umumnya, produsen bagi pasar monopoli memperoleh keuntungan yang banyak karena hanya dialah penentu harga (price taker) dan produsen lain yang ingin masuk ke pasar itu akan sulit.

Ciri-ciri pasar monopoli:

  • Terdapat satu produsen perusahaan yang menghasilkan produk tertentu
  • Produk yang dihasilkan cenderung tidak memiliki produk pengganti
  • Ada hambatan untuk masuk ke pasar monopoli
  • Produsen dapat mempengaruhi penentuan harga produk
  • Tak perlu mengeluarkan budget untuk promosi lebih.

Contoh pasar monopoli di Indonesia, yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN).


3. Struktur Pasar Oligopoli

Struktur pasar oligopoli terjadi saat hanya ada beberapa penjual atau produsen dan jumlah pembelinya banyak. Penjual di pasar ini memiliki kekuatan untuk mempengaruhi harga tapi tidak seleluasa dalam pasar monopoli.

Ciri-ciri pasar oligopoli:

  • Terdapat beberapa penjual saja, biasanya dua sampai tiga
  • Produk yang ditawarkan bisa homogen atau heterogen (berbeda-beda)
  • Harga produk ditentukan oleh pemilik pangsa terbesar
  • Harga produk cenderung sama
  • Tingkat persaingan dapat menguat atau melemah tergantung pesaing.

Contoh pasar oligopoli di Indonesia, seperti industri rokok, operator telekomunikasi, dan industri penerbangan.


4. Struktur Pasar Monopolistik

Dalam pasar monopolistik terdapat banyak penjual yang menawarkan produk homogen. Namun, produk yang dijual masing-masing produsen berbeda dari segi kualitas, bentuk, serta ukurannya. Sehingga penentuan harga umumnya tetap akan ditentukan langsung oleh penjual.

Ciri-ciri pasar monopolistik, mencakup:

  • Jumlah produsen atau penjual yang banyak
  • Memiliki produk yang serupa tapi punya karakteristik yang berbeda
  • Persaingan produsen bukan berdasarkan harga melainkan kualitas, desain, hingga kelebihan masing-masing produk
  • Tidak ada hambatan untuk keluar dan masuk pasar.

Contoh pasar monopolistik di Indonesia, meliputi industri otomotif, industri elektronik, industri kosmetik dan perawatan kecantikan.


5. Struktur Pasar Monopsoni

Struktur pasar monopsoni terjadi ketika hanya ada satu pembeli dan banyak penjual untuk produk tertentu. Sehingga pembeli memiliki kekuatan untuk mempengaruhi harga produk karena tidak ada alternatif lain yang tersedia bagi produsen atau penjual.

Ciri-ciri pasar monopsoni:

  • Ada banyak penjual yang bersaing
  • Hanya ada pembeli tunggal di pasar produk tersebut
  • Pembeli mampu mengendalikan harga produk.

 Tugas Mikro Ekonomi 

Economies dan Diseconomies of Scale

Economies of scale adalah kondisi di mana biaya rata-rata per unit produksi menurun seiring dengan meningkatnya jumlah produksi. Dengan kata lain, semakin besar skala produksi, semakin efisien dan murah biaya produksinya.

 Contoh:

•Sebuah pabrik mobil yang memproduksi 100.000 unit per tahun memiliki biaya produksi per unit lebih rendah dibandingkan pabrik yang hanya memproduksi 1.000 unit per tahun karena bisa membeli bahan baku dalam jumlah besar dengan harga lebih murah.

2. Diseconomies of Scale

Diseconomies of scale adalah kondisi di mana biaya rata-rata per unit produksi meningkat saat perusahaan tumbuh terlalu besar. Ini terjadi karena berbagai faktor seperti inefisiensi manajerial, birokrasi yang berlebihan, atau sulitnya koordinasi dalam perusahaan yang sangat besar.

Contoh:

•Sebuah perusahaan ritel yang terlalu besar mungkin mengalami kesulitan dalam komunikasi antar departemen, yang mengakibatkan keterlambatan pengambilan keputusan dan menurunkan efisiensi operasional.


Faktor-Faktor Economies of Scale 

1. Teknologi Produksi

• Penggunaan mesin otomatis atau teknologi canggih meningkatkan efisiensi produksi.

2. Diskon Pembelian Bahan Baku

• Perusahaan besar bisa membeli bahan baku dalam jumlah besar dengan harga lebih murah (diskon volume).

3. Distribusi Biaya Tetap

• Biaya tetap (seperti sewa pabrik dan investasi mesin) dapat dibagi ke lebih banyak unit produk, sehingga biaya per unit menurun.

4. Keunggulan Keuangan

• Perusahaan besar lebih mudah mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah karena dianggap lebih stabil oleh bank.

5. Spesialisasi Tenaga Kerja

• Dengan skala besar, perusahaan bisa mempekerjakan tenaga kerja khusus di setiap bidang, meningkatkan efisiensi.


Faktor-Faktor Diseconomies of Scale

1. Kompleksitas Manajemen

• Perusahaan yang terlalu besar sulit dikelola dengan efektif, menyebabkan pengambilan keputusan lambat dan birokrasi berlebihan.

2. Kurangnya Koordinasi & Komunikasi

• Dengan banyaknya cabang atau departemen, koordinasi antar tim menjadi sulit, menyebabkan inefisiensi.

3. Motivasi Karyawan Menurun

• Dalam perusahaan besar, karyawan mungkin merasa kurang dihargai atau kehilangan keterlibatan, sehingga produktivitas menurun.

4. Biaya Overhead yang Meningkat

• Biaya administrasi, pelatihan, dan pengawasan meningkat karena jumlah pekerja dan divisi yang besar.




Newer Posts Older Posts Home

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tugas Digital Marketing Azizah Chairunnisa A
  • Tugas 2 Mikro Ekonomi
  • Tugas Mikro Ekonomi Azizah Chairunnisa A
  • Tugas 3 Mikro Ekonomi
Tasty Treats
Travel Journal

Advertisement

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger

Report Abuse

About Me

Azizah Chairunnisa A
View my complete profile

Slider

5/random/slider

Search This Blog

  • September 20251
  • March 20252
  • February 20251

Advertisement

Main Ad
  • Home
  • About
  • Contact
  • Home
  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Mega Menu
  • Documentation
  • _Web Documentation
  • _Video Documentation
  • Download This Template

Most Popular

Tugas Digital Marketing Azizah Chairunnisa A

Tugas Digital Marketing Azizah Chairunnisa A

September 16, 2025
Tugas 2 Mikro Ekonomi

Tugas 2 Mikro Ekonomi

March 07, 2025
Tugas Mikro Ekonomi Azizah Chairunnisa A

Tugas Mikro Ekonomi Azizah Chairunnisa A

February 15, 2025

Menu Footer Widget

  • Home
  • About
  • Contact Us

Social Plugin

Oddthemes

Random Products

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates